Makalah Hakikat Struktur dan Fungsi Dakwah Sebagai Sebuah Sistem


BAB II

PEMBAHASAN

Hakikat Struktur dan Fungsi Dakwah Sebagai Sebuah Sistem

 A. Sistem Dakwah

Sebelum membahas lebih jauh mengenai sistem dakwah, perlu kita renungi kembali makna dari sistem dan dakwah itu sendiri. Adapun sistem berasal dari kata Systeem  (Belanda),  Sisteme  (Perancis) dan Sistema (Yunani-Latin). Sistem adalah sebuah kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian yang saling terkait (interrelasi) dan saling bergantung (inter-dependensi) untuk mencapai tujuan. Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia, ‘sistem’ berarti: perangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas. Sedangkan dakwah dapat diartikan sebagai suatu kewajiban mengajak manusia kepada jalan Tuhan dengan cara hikmah, mauizhah hasanah, dan mujâdalah dengan ahsan. Aktivitas ini dalam prosesnya akan melibatkan unsur-unsur pokok dalam dakwah, yaitu: (1) dâ’i, (2) mad’û, (3) pesan, (4) metode, (5) media, dan (6) tujuan, dimensi ruang dan waktu. 
Adapun sistem dakwah yang dimaksud ialah, sejumlah unsur dan perangkat dalam kegiatan dakwah yang saling terkait (integral) untuk mencapai tujuan dan target dakwah. 
Beberapa unsur penting dalam kegiatan dakwah sebagai berikut:

1.  Dâ’i (Subjek Dakwah)

Dâ’i adalah orang yang mengajak kepada orang lain baik secara langsung atau tidak langsung melalui lisan, tulisan atau perbuatan untuk mengamalkan ajaranajaran Islam atau menyebarluaskan ajaran Islam, melakukan upaya perubahan ke arah kondisi yang lebih baik menurut ajaran Islam. Dâ’i dalam posisi ini disebut subjek dakwah, yaitu pelaku dakwah yang senantiasa aktif menyebarluaskan ajaran Islam.

2.  Maudhû’ (Pesan Dakwah)

Maudhû’ atau pesan-pesan dakwah adalah pesanpesan, materi atau segala sesuatu yang harus disampaikan oleh dâ’i (subjek dakwah) kepada mad’û (objek dakwah), yaitu keseluruhan ajaran Islam yang ada di dalam al-Qur’an dan hadits.

3.  Uslûb (Metode Dakwah)

Metode         dakwah            adalah suatu    cara     dalam melaksanakan dakwah, menghilangkan rintangan atau kendala-kendala dakwah agar mencapai tujuan dakwah secara efektif dan efisien.

4.  Media Dakwah (Wasîlah ad-Dakwah)

Yaitu alat objektif yang menjadi saluran yang dapat menghubungkan ide dengan umat, suatu elemen yang vital dan merupakan urat nadi dalam totalitas dakwah yang keberadaannya sangat urgen dalam menentukan perjalanan dakwah.

5.  Mad’û

Mad’û atau sasaran objek adalah seluruh manusia sebagai makhluk Allah yang dibebani menjalankan agama Islam dan diberi kebebasan untuk berikhtiar, berkehendak dan bertanggungjawab atas perbuatan sesuai dengan pilihannya, mulai dari individu, keluarga, kelompok, golongan, kaum, masa dan umat manusia seluruhnya.

6.  Tujuan Dakwah

Adalah nilai atau hasil akhir yang ingin dicapai atau diperoleh keseluruhan tindakan dakwah.

B.     Hakikat Struktur Dakwah

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, struktur dapat diartikan suatu cara sesuatu disusun dengan pola tertentu; dapat pula berarti pengaturan unsur-unsur atau bagian dari suatu benda atau wujud. Hakikat struktur dakwah dapat diartikan sebagai pengaturan atau penyusunan unsur-unsur dakwah dengan pola tertentu. Dilihat dari segi pelakunya, terdapat lima struktur dalam dakwah Islam, yaitu sebagai berikut:

1.  Struktur Dakwah Allah

Dakwah Allah dapat pula dikatakan sebagai dakwah ilâhiyyah. Dalam struktur dakwah ilahiyah ini, Allah merupakan Dâ’i pertama  dalam proses berdakwah  sebagaimana tersirat dalam definisi tanzîl alQur’ân, yaitu: “firman Allah yang diturunkan oleh malaikat jibril ke dalam qalb (hati) utusan Allah, Muhammad ibni ‘Abdillah dengan kata-kata berbahasa arab dengan maknanya, agar menjadi argumen atas kerasulan Muhammad sebagai tuntunan hidup manusia, membacanya menjadi ibadah, yang ditulis dalam mush-haf yang diawali dengan surat al-fâtihah dan diakhiri dengan surat an-nâs yang sampai kepada kita secara mutawatir baik tulisan maupun penuturannya dari satu generasi ke generasi yang lain yang tetap terjaga dari perubahan dan berlaku sepanjang masa.”  
Dengan demikian, berdasarkan  proses tanzîl alQur’ân tersebut maka dalam perspektif dakwah terdapat unsur-unsur dakwah apalagi jika kita kaitkan dan kita bandingkan dengan paradigma komunikasi sebagai berikut:
a.       Allah sebagai Dâ’i pertama, yaitu sebagai penyampai dakwah (subjek).
b.      Al-Qur’an sebagai Maudhû’ ad-Da’wah atau pesan dakwah.
c.       Malaikat Jibril sebagai Washîlah ad-Da’wah atau media dakwah.
d.      Penampakan langsung atau tidaknya Malaikat Jibril sebagai Uslûb ad-Da’wah atau metode dakwah.
e.       Nabi Muhammad SAW sebagai mad’û atau objek dakwah (dalam tataran proses dakwah kepada sesama manusia, Nabi Muhammad SAW sebagai dâ’i kedua).
Selain           berdasarkan     proses tanzîl   al-Qur’ân sebagaimana disebutkan di atas, juga didasarkan pada firman Allah SWT QS Yûnus/10: 25 sebagai berikut:
ۚ
“Allah menyeru (manusia) ke dârussalâm (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).”
Mengacu pada ayat tersebut, dapat ditemukan prinsip-prinsip dakwah, yaitu sebagai berikut.
1.         Dakwah Allah bersifat tanâzuli (top-down)
2.         Pesan dakwah Allah berupa Shirâth Mustaqîm (jalan kehidupan yang lurus)
3.         Tujuan dakwah Allah adalah Dâr as-Salâm (situasi dan kondisi kehidupan yang damai, sejahtera dan selamat)
4.         Metode dakwah Allah adalah hidâyah
5.         Menggunakan media Malak Jibrîl dan muqarabîn dan dapat pula langsung tanpa media
6.         Mad’û dakwah Allah adalah makhluknya
7.         Hidâyah sebagai metode dalam dakwah Allah.
Dalam pemahanan Rasyid Ridho mendefinisikan  hidayah sebagai petunjuk halus yang memudahkan sesuatu sampai pada tujuan.158 lebih lanjut lagi Ibnu Qayyim al-Jauziyah menyebutkan 10 (sepuluh) macam atau peringkat/martabat hidayah sebagai bentuk aktualisasi Metode dakwah Ilâhiyyah, yaitu sebagai berikut:
8.         Martabat Li Taklîm, yaitu berfirman langsung pada hamba-Nya dalam keadaan bangun tanpa perantara.
9.         Martabat Lil Wahyi, yaitu Wahyu khusus kepada para nabi.
10.     Martabat lil Irsyâdil Malâikah, yaitu mengutus malaikat kepada manusia yang di pilih menjadi rasul-Nya dengan mewahyukan segala perintah dan larangannya dari  Allah SWT.
11.     Martabat li Tahdîts, yaitu Percakapan transsendental di luar konteks wahyu (at-Tahdîts).
12.     Maratabat lil Fahm, yaitu Memberikan kemampuan ketajaman pemahaman tentang segala persoalan melalui daya nalar (al-Ifhâm).
13.     Memberikan penjelasan umum tentang kebenaran melalui bukti-bukti fenomena hukum alam yang teramati (al-âyat al-masyhûdah al-ma’iyyah) dan penuturan simbol bahasa (al-masmû’ah al-matlû’ah) .
14.     Martabat lil Bayân , yaitu Memberikan penjelasan khusus melalui pemberian kemampuan penyesuaian perilaku diri dengan ajaran.
15.     Martabat Lil Ismâ’, yaitu Memerdengarkan sesuatu kepada potensi pendengaran telinga, hati, dan damir manusia.
16.     Martabat Ilhâm, yaitu Memberikan inspirasi dan intuisi tanpa di dahului oleh usaha manusia untuk memerolehnya (al-Ilhâm).
17.     Martabat ar-Ruyâ ash-Shâlihah, yaitu mentransmisikan informasi melalui mimpi yang valid (ar-Ru’yâ al-Shâdiqah).

2.  Struktur Dakwah Nabi

Adanya dakwah ini dapat dilihat dari kerangka epistemologinya, yaitu QS al-Ahzâb/33: 43-45, QS anNahl/16: 44 dan QS al-Jumu’ah/62: 2. Mengacu pada kerangka epistemologi dakwah Nabi ini, maka dapat diturunkan prinsip-prinsip dakwah Nabi dan Rasul sebagai berikut:
a.       Nabi adalah pembawa informasi ilahiyah kepada orang lain (umatnya) agar hanya dapat beribadah kepada Allah SWT, dan Rasul adalah pembawa atau utusan Allah kepada manusia (umat-Nya) dengan membawa pesan (risalah) agar manusia hanya beribadah kepada Allah SWT.
b.      Dakwah Nabi berlangsung secara linier atau horisontal.
c.       Pesan nubuwwah dan risâlah disampaikan kepada manusia dengan metode:
1)            Tasyîd, pembuktian dengan argumentasi dan perbuatan
2)            Tabsyîr, penyampaian dakwah yang berisi kabar-kabar yang menggembirakan bagi orang-orang yang mengikuti dakwah.[1] 
3)            Tandzîr atau indzâr, yaitu penyampaian dakwah dimana isinya berupa peringatan terhadap manusia tentang adanya kehidupan akherat dengan segala konsekuensinya.
4)            Da’wah, yaitu seruan dan ajakan;
5)            Sirâjan        Munîrâ,           yaitu    penyuluhan     dan penerangan;
6)            Tilâwah, yaitu membaca sambil memahami;
7)            Tazkiyah, yaitu membersihkan jiwa dan nafsu negatif;
8)            Ta’lîm,        yaitu    dengan              memberikan pengajaran;
9)            Khithâbah, menuliskan pesan; atau dapat diartikan pula sebagai upaya sosialisasi nilainilai Islam melalui media lisan, baik yang terkait langsung dengan pelaksanaan ibadah mahdhah maupun yang tidak terkait dengan ibadah mahdhah;
10)        Hikmah, yaitu menempatkan berbagai persoalan sesuai peran, fungsi dan tempatnya;
11)        Tabyîn, yaitu penjelasan dengan lisan dan perbuatan.
d.      Media yang digunakan dalam  menyalurkan pesan nubuwwah dan risâlah adalah bahasa lisan dan tulisan dari instrumen lisan dan amal badan
(uswatun hasanah)
e.       Mad’û penerima pesan nubuah dan risalah adalah individu (nafsiyah), keluarga (fardiyah), kelompok  (hizbiyah) dan komunitas (ummah);
f.        Respon mad’û terhadap pesan nabi dan Rasul, ada yang menerima (sami’nâ wa ath’nâ) dan ada yang menolak (sami’nâ wa ashainâ).

3.  Struktur Dakwah Umat Nabi

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata “umat” diartikan sebagai (1) Para penganut atau pengikut suatu agama, (2) Makhluk manusia. Lebih lanjut lagi para pakar bahasa al-Qur’an dalam buku Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, menjelaskan bahwa kata umat didefinisikan sebagai semua kelompok yang dihimpun oleh sesuatu, seperti agama, waktu atau tempat yang sama, baik penghimpunannya secara terpaksa maupun atas kehendak mereka.
Kerangka epistemologi dakwah umat Nabi ini dapat dilihat dari QS Āli ‘Imrân/3: 104, 110 dan 112, dan QS an-Nahl/16: 125. Mengacu kepada beberapa ayat ini dapat diturunkan prinsip-prinsip dakwah umat Nabi dan Rasul sebagai dakwah Islam, sebagai berikut:
a.       Dâ’i adalah laki-laki dan wanita yang akil baligh mampu mengendalikan nafs negatifnya dan menguasai serta mengamalkan pesan dakwah terlebih dahulu.
b.      Pesan dakwah yang terkandung dalam dakwah umat nabi  adalah al-Islam itu sendiri yang  memiliki konsep biologis dan pandangan dunia bersumber kepada  al-Qur’an, sunnah dan ijtihad serta sejarah peradaban Islam di sepanjang zaman.
c.       Metode yang dipakai dalam dakwah umat Nabi adalah melalui metode al-quwwah (kekuasaan), al-qaul (bahasa lisan, tulisan), dan as-sairah alhasanah (perbuatan), seperti jihad menegakan agama Islam, menegakkan keadilan mewujudkan keamanan dan kemerdekaan dan mengelola sumber daya manusia dan alam. Semua metode tersebut merupakan upaya merealisasikan interaksi dengan Tuhan, manusia dan alam.
d.      Pesan dakwah disalurkan melalui media lingkungan, keluarga, lingkungan, sekolah, berbagai karya tulis dan media elektronik.
e.       Mad’û dalam dakwah umat Nabi adalah seluruh manusia yang berbeda suku, bahasa dan bangsa. Jika manusia itu sudah menerima Islam, maka dakwah bagi mereka berupa intensifikasi (attaktsîf wa at-tadkhîl)[2], sedangkan jika manusia itu belum menerima Islam, maka dakwah bagi mereka berupa ekstensifikasi (at-tamdîd wa alfutûhât) [3].
f.        Dakwah Islam berproses di atas dasar rasional (al-‘aqliyah), kebebasan (al-huriyyah) dan perjuangan (al-jihâd), dalam konteks nafsiyyah, fardiyyah, fi’ah, hizbiyyah/Jamâ’ah, ummah dan syu’ûbiyyah (antarbudaya).
Respon mad’û terhadap dâ’i dan pesan dakwah berlaku hukum taqâbul (pasangan yang berlawanan), yaitu: menerima dan/atau menolak sebagai ekspresi dari kebebasan yang dimiliki mad’û sebagai manusia.

4. Struktur Dakwah Kafir

Adanya dakwah kafir dapat dilihat dari kerangka epistemologinya yaitu QS al-Baqarah/2: 221, Yûnus/10: 66, dan al-Qashash/28: 41. Mengacu kepada beberapa ayat tersebut dapat  diturunkan prinsip-prinsip dakwah kafir atau non-muslim sebagai tantangan dakwah Islam (gazw ad-da’wah), yaitu:
a.       Dakwah kafir atau non-muslim sebagai ekspresi nafs yang mengikuti kecenderungan (hawâhu) dan bergerak ke arah bawah, yakni mengikuti nafsu ammârah.
b.      Pesan dakwah kafir atau non-muslim adalah tatanan hidup produk akal yang didominasi oleh kecenderungan (hawâhu) kepada kegelapan
(zhulumât).
c.       Metode dakwah yang digunakan adalah bujukan lisan, bujukan materi dan bujukan perbuatan yang antara lain melalui perkawinan silang (baca: lintasagama).
d.      Media dakwah yang digunakan adalah instrumen lisan, badan, media cetak, dan elektronik (abad modern).
e.       Mad’û dakwah ini adalah orang muslim dan nonmuslim lagi.
f.        Respon mad’û dakwah kafir dan non-muslim ada yang menerima dan ada yang menolak, bagi yang menerima berarti murtad dan bagi yang menolak tetap menjadi muslim yang lulus ujian.

5.  Struktur Dakwah Syaithân

Adanya dakwah ini diisyaratkan oleh al-Qur’an, antara lain dalam QS al-Mâidah/5: 91-92, Luqmân/31: 21, an-Nashr/110: 1-6. Dakwah syaithân merupakan ajakan syaithan kepada manusia  menuju jalan kesesatan. Dari beberapa ayat tersebut dapat diturunkan beberapa prinsip dakwah syaithân sebagai berikut:
a.       Dâ’i dalam dakwah ini adalah Jin Kafir dan manusia kafir  yang  terdominasi oleh hawa nafsunya dan ditujukan kepada manusia muslim sebagai lawan Islam (gazw ad-da’wah).
b.      Pesan dakwah ini antara lain berupa fahsyâ’, munkar, khamar (minuman terlarang) maisîr (judi), anshâb (berkurban untuk berhala), azlâm (mengundi nasib dengan panah dan sejenisnya), ‘adawâh (permusuhan), baghdhâ’ (kebencian), shaddû ‘an zikrillâh (menghalangi mengingat Allah), dan shadû ‘an shalâh (menghalangi shalat).
c.       Metode dakwah ini melalui penggunaan nafs ammârah, nafs lawwâmah, nafs mulhamah, nafs mardhiyyah dan nafs kâmilah[4] dalam bentuk yuwaswisu fî sudûrinnâs (membisikan kejahatan di dalam nafs)
d.      Media dakwah ini melalui penggunaan energi yang dimiliki Jin Kafir. Energi di sini maksudnya energi negatif yang ditujukan kepada manusia untuk berbuat maksiat.
e.       Mad’û dakwah ini adalah muslim yang taat menjalankan ajaran Islam dengan tujuan zhulumât dan nâr (kegelapan kehidupan dan kecelakaan )
f.        Mad’û merespon dakwah ini ada yang merespon positif (menerima) dan ada yang menolak, bagi yang menerima ia akan menjadikan al-An’âm bal hum adhallun (bagaikan binatang bahkan lebih sesat dan jahat), dan bagi yang menolak, ia merupakan muslim yang lulus ujian.

 C.  Hakikat Fungsi Dakwah

1.      Menuntun keyakinan umat manusia sesuai dengan fitrahnya, yaitu tauhidullâh (memiliki keyakinan kepada Allah SWT).
2.      Membangun keimanan umat manusia yang senantiasa fluktuatif (bertambah dan berkurang) agar senantiasa stabil (kokoh) dalam beriman dan beramal saleh di bawah landasan karena Allah
3.      Dakwah merupakan penuntun akal manusia dalam mencari dan menjalankan kebenaran.
4.      Dakwah Islam menjadi dasar dan alasan bagi akal untuk melaksanakan kewajiban beriman kepada
Allah.
5.      Merealisasikan Islam sebagai rahmatan li al-‘âlamîn (menebar kasih sayang Tuhan dan keselamatan bagi seluruh alam).[5]
Dilihat dari segi fungsinya, dakwah Islam dengan mengacu kepada kitab al-Qur’an sebagai kitab dakwah, antara lain dapat di rumuskan sebagai berikut:
1.      Merupakan upaya mengeluarkan manusia dari kegelapan hidup (zhulumât) kepada cahaya kehidupan yang terang (nûr).
2.      Upaya menegakkan fitrah insaniyah.
3.      Mengestafetkan tugas kenabian dan kerasulan .
4.      Upaya menegakan aktualisi pemeliharaan agama, jiwa, akal, generasi, dan sasaran hidup
Perjuangan memenangkan ilhâm taqwâ atas ilhâm fujûr dalam kehidupan individu, keluarga, kelompok, dan komunitas manusia.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Hakikat struktur dakwah dapat diartikan sebagai pengaturan atau penyusunan unsur-unsur dakwah dengan pola tertentu.


DAFTAR PUSTAKA

M. Munir, dkk, 2003, Metode Dakwah (Jakarta: Kencana, Cet. Ke-3)
Isep Zaenal Arifi, 2009. Bimbingan Penyuluhan Islam. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada)



[1] M. Munir, dkk, 2003, Metode Dakwah (Jakarta: Kencana, Cet. Ke-3), hal. 257.  
[2] Peningkatkan aktivitas pembinaan keislaman (ke dalam pribadi dan komunitas muslim), dengan tujuan untuk memerbaiki kualitas keislamaan setiap muslim dan umat Islam.
[3] Menyebarluaskan dakwah Islam kepada semua orang, sehingga Islam sebagai agama yang dapat diterima, membawa kebaikan, dan bisa dinikmati oleh siapa pun tanpa ada yang mengusik  dan merasa terusik.            Atau       dengan kata lain, mendakwahkan Islam sebagai ‘rahmatan lil ‘âlamîn’.  
[4] Isep Zaenal Arifi, 2009. Bimbingan Penyuluhan Islam. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada), hal. 143.  
[5] Kata rahmatan li al-‘âlamîn yang terdapat dalam al-Quran, berdasarkan penafsiran para ulama ahli tafsir yang kredibel, mengisyaratakan beberapa simpulan penting, yang antara lain dinyatakan bahwa “manusia diseru untuk berislam dengan wajah damai”, karena syari’at dan Islam menawarkan nilai kasih sayang antarmanusia, baik dalam pengertian intra maupun inter-personal, yang dalam bahasa lain dikatakan dalam al-Quran dengan: “menawarkan semangat anti-kezaliman dan pro-keadilan”, sebagai larangan-larangan Allah agar tidak berbuat zalim dan untuk berlaku adil kepada siapa pun dalam konteks apa pun, tetapi dalam konteks kewajiban beramar- ma’ruf nahi mungkar, pemahaman konsep rahmatan li al-‘âlamîn harus dimaknai secara proporsional.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Statistika Ukuran Penyebaran Data